Showing posts with label budaya. Show all posts
Showing posts with label budaya. Show all posts

Friday, 10 April 2015

Menyaksikan Serunya Aksi Ksatria Berkuda dalam Pasola

Menu sarapan yang disediakan tidak sempat saya santap, hanya dua potong pisang goreng dan secangkir teh hangat buru-buru saya habiskan karena mobil travel sudah standby di halaman hotel siap untuk berangkat. Saat itu sekitar pukul 8 pagi, penumpang hanya saya dan seorang ibu, mobil mulau meninggalkan Waitabula akan mengantakan saya dan penumpang lainnya ke Waikabubak. Hari itu akan diselanggarakan Pasola di Wanokaka, Sumba Barat yang memang menjadi tujuan utama saya datang ke Sumba.
Pasola di Sumba bisanya di gelar di bulan Februari dan bulan Maret setiap tahunnya, kali ini kesempatan saya bisa menykasikan Pasola pada bulan Maret kemarin.
Siap melemparkan tombak kayu ke arah lawan

Di tengah perjalanan, supir beberapa kali mampir menyemput penumpang lainnya. Obrolan saya dengan supir tentang Pasola dan rententan acara berkaitan dengan Pasola sudah dimulai sejak hari-hari sebelumnya. Kemarin sudah digelar Pajura di Lamboya yaitu semacam duel tangan kosong, sementara dini hari tadi juga dilaksankan penangkapan Nyale (sejenis cacing laut) di pantai Wanokaka seperti halnya tradisi "Bau Nyale" di sekitar pantai Kuta, Lombok Tengah.
Ahh,,, sayang sekali saya ketinggalan moment-monet rententan acara adat tersebut :(

Friday, 29 August 2014

Wae Rebo, Tanah Impian Warisan Leluhur yang Masih Bertahan

Kami bergegas turun meninggalkan pos 3 menuju dataran dengan rumput hijau yang dikeliling 7 Mbaru Niang. Akhirnya... Setelah perjalanan panjang selama 4 jam yang penuh peluh dan melelahkan (baca disini), kami tiba di tanah yang selama ini menjadi impian saya untuk bisa mengunjunginya. Kini mimpi itu menjadi nyata, padahal saat kami sudah tiba di Flores, kami belum memutuskan untuk mengunjungi kampung Wae Rebo ini.
Saya begitu takjub melihat bangunan peninggalan leluhur Wae Rebo yang sudah berusia seribu tahun lebih namun masih terus dipertahankan dan tetap berdiri kokoh diantara pegunungan yang mengelilinginya. Pantaslah bila Mbaru Niang ini mendapatkan penghargaan tertinggi dalam bidang pelestarian warisan budaya yaitu penghargaan dari UNESCO Asia-Pacific Awards tahun 2012.
Rumah kerucut dengan struktur kayu dan bambu dengan atap dari ijuk dan ilalang ini memiliki ketinggian antara 10 m dan 15 m yang terdiri dari 5 tingkatan dengan lantai dasar atau tingkatan pertama sebagai ruang tempat aktifitas sehari-hari sedangkan tingkatan berikutnya adalah sebagai tempat penyimpanan bahan makanan, kayu bakar, perlengkapan upacara dan lainnya.
Jajaran Mbaru Niang di hamparan rumput hijau

Sunday, 24 November 2013

Kete Kesu - Toraja, dari Tongkonan, Makam Batu dan Patung Tao-tao

Beberapa menit setelah bus meninggalkan pool di Makassar, saya menarik selimut dan mengatur bantal untuk bisa mendapat posisi senyaman mungkin agar bisa tidur di bus yang akan menempuh perjalanan selama 8 jam menuju Tana Toraja. Tanpa terasa bus sudah memasuki Toraja saat subuh tiba, udara terasa begitu segar karena semalam hujan turun disini. Dari jendela bus terlihat pemandangan bukit diselimuti kabut, persawahan yang hijau dan sungai dengan air yang cukup deras di tepi jalan yang kami lintasi. Beberapa penumpang mulai turun, saya bertanya ke penumpang yang duduk di samping saya "Ini sudah sampai di Rantepao ya?", "Belum, Rantepao masih di depan lagi." jawabnya. Pertanyaan saya didengar oleh penumpang yang duduk agak belakang di baris samping kursi saya. Ia menyapa dan menanyakan tujuan saya ke Toraja, ternyata kami memilikai tujuann yang sama, akhinya kami putuskan untuk jalan bareng selama di Toraja. 


Monday, 28 October 2013

Parade Festival Keraton dan Masyarakat Adat Asia Tenggara II di Mataram [Foto]

Tanggal 25 Oktober kemarin ada sebuah perhelatan akbar di Mataram-Lombok, sekitar 80 delegasi dengan sekitar 600 kontingen dari berbagai Kerajaan yang ada di Asia Tenggara menampilkan atraksi kesenian dan budaya yang dimilki masing-masing Kerajaan dalam Parade Festival Keraton dan Masyarakat Adat Asia Tenggara II.
Festival Keraton ini adalah penyelenggaraan yang ke-2 setelah pada tahun 2008 dilaksanakan di Denpasar. Tema yang diusung dalam Festival Keraton dan Masyarakat Adat Asia Tenggara II yang berlangsung padatanggal 25-28 Oktober 2013 ini menusung tema "Mewujudkan Komunitas Sosial Budaya ASEAN Menuju ASEAN Community 2015"

Friday, 13 September 2013

Mampir Melihat Koleksi Museum Nasional


Berkunjung ke museum mungkin kurang menarik bagi kebanyakan orang begitu pula yang sempat saya rasakan. Bahkan sebelum ini, saya baru sekali berkunjung ke museum itupun waktu masik duduk di bangku Sekolah Dasar. Hehee..

Entah angin apa yang membawa saya saat itu mampir ke Museum Nasional yang terletak di Jalan Medan Merdeka Barat-Jakarta Pusat. Ternyata berkunjung ke museum itu menarik juga, selain bisa melihat langsung barang-barang peninggalan yang bernilai sejarah sekaligus bisa mendapat pelajaran berharga mengenai perjalanan peradaban nenek moyang kita di nusantara.

Arca-arca yang ada di halaman dalam Museum Nasional

Thursday, 14 March 2013

Tradisi Omed-omdean di Banjar Kaja, Sesetan

Tanggal 13 Maret 2013 kemarin, ada tradisi unik yang diselenggarakan sehari setelah perayaan Nyepi di bajanar Kaja, Sesetan, Denpasar-Bali. Tradisi ini bernama Omed-omedan yang merupakan tradisi turun temurun yang sudah ada sebelum zaman penjajahan. Tradisi ini merupakan luapan kegembiraan para pemuda saat Ngambek Geni yaitu sehari setelah perayaan Nyepi. Menurut salah seorang tokoh di Banjar yang memberikan keterangan kepada para peliput sebelum acara berlangsung, tradisi ini mengandung nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, juga menjaga keharmonisan. Selain itu tradisi ini juga mengandung nilai spiritual yaitu penghormatan kepada leluhur. Beliau juga membantah kalau tradisi ini identik dengan bercium-ciuman melainkan merupakan unsur hiburan.


Sunday, 20 January 2013

Ngejot, Tradisi Luhur Masyarakat Lenek yang Terus Bertahan

Berbeda dari biasanya, berkumpul bersama keluarga menikmati buka puasa hari terakhir dan ikut sibuk malam takbiran, tapi pada hari terakhir puasa tahun lalu saya malah ikut dengan tetangga saya ke kampungnya di Desa Lenek, Kecamatan Aikmel, Kabupeten Lombok Timur.
Tetangga mengajak saya sebut saja sebagai tukang foto untuk mengabadikan moment budaya "Ngejot" melalui bidikan lensa, kebetulan dia salah satu tokoh pemuda dan penggagas festival Ngejot di desanya.