Thursday, 14 March 2013

Tradisi Omed-omdean di Banjar Kaja, Sesetan

Tanggal 13 Maret 2013 kemarin, ada tradisi unik yang diselenggarakan sehari setelah perayaan Nyepi di bajanar Kaja, Sesetan, Denpasar-Bali. Tradisi ini bernama Omed-omedan yang merupakan tradisi turun temurun yang sudah ada sebelum zaman penjajahan. Tradisi ini merupakan luapan kegembiraan para pemuda saat Ngambek Geni yaitu sehari setelah perayaan Nyepi. Menurut salah seorang tokoh di Banjar yang memberikan keterangan kepada para peliput sebelum acara berlangsung, tradisi ini mengandung nilai-nilai kebersamaan, solidaritas, juga menjaga keharmonisan. Selain itu tradisi ini juga mengandung nilai spiritual yaitu penghormatan kepada leluhur. Beliau juga membantah kalau tradisi ini identik dengan bercium-ciuman melainkan merupakan unsur hiburan.




Prosesi omed-omedan diawali dengan seluruh pemuda-pemudi melakukan sembahyang di Pura Banjar, kemudian para pemuda membentuk barisan yang saling berhadapan antara laki-laki dan perempuan, setelah pemimpin barisan memberikan kode berarti masing-masing barisan sudah siap untuk mengusung satu persatu atau dua sekaligus pasangan untuk salang berciumuan. Ciuman akan dihentikan dengan guyuran air yang disiramkan ke mereka. 
Sembahyang sebelum prosesi dimulai

Dari barisan lelaki sudah bersiap-siapuntuk omde-omedan

Satu persatu wakil dari perempuan diusung untuk omed-omedan


 

Air disiramkan untuk memisahkan proses berciuman


Tradisi ini sudah cukup popular dan menjadi daya tarik pariwisata di Bali, terbukti dengan banyaknya pengunjung yang datang dari berbagai daerah bahkan banyak juga wisatawan dari luar negeri yang ikut menyaksikan. Saya sempat berkenalan dengan beberapa fotografer dari Makasar yang datang khusus untuk mengabadikan moment-moment budaya menyangkut perayaan Nyepi di Bali. 

Acara kemarin dimulai sekitar jam 4 sore, saat saya datang pukul setengah tiga, suasana sudah cukup ramai. Posisi-posisi nyaman untuk mengambil gambar dari atas sudah penuh, terpaksa saya harus berusaha menyelinap diantara kerumunan untuk mendapatkan gambar dengan resiko harus rela basah-basahan. Untuk menghindari kamera dari guyuran air, kamera harus dibungkus dengan plastik. Benar saja, beberapa saat setelah omed-omedan dimulai, saya sudah basah terkena guyuran air dan di akhir acara, saya benar-benar basah luar dalam.. :D

4 comments:

  1. Replies
    1. kameranya selamat dibungkus keresek..

      Delete
  2. foto pertama bagus banget,,momennya dapet,josss
    kok bisa deket bgt gitu ngambilnya?

    ReplyDelete
  3. Thanks bro.. Itu memang saya maju kedepan kerumunan. Pake lensa wide, kamera diangkat keatas tanpa ngeliat viewfinder langsu jepret2..

    ReplyDelete