Seperti biasa, trip saya adalah dalam rangka kerja, tapi saya sempatkan untuk mampir jika ada tempat menarik yang kebetulan dilewati ataupun dekat dari lokasi kerja.
![]() |
Penataan letak bangunan yang rapi di Kampung Bena |
Malam itu kami tiba di Bajawa sekitar pukul sebelas setelah menyelesaikan perkejaan di Mbay. Kami bermalam di hotel Edelweis, cukup nyaman dan fasilitasnya juga cukup lengkap, hot water, WiFi dan sarapan. Jangan harap hotel disini memiliki fasilitas AC, karena udara di bajawa sudah cukup dingin.
Kebetulan di hotel ini ada dipajang foto beberapa obyek wisata yang ada di Bajawa, salah satunya adalah Kampung Adat Bena. Kampung Adat Bena terletak di selatan kota Bajawa, tepatnya di kaki Gunung Inerie, Ngada. Menurut informasi dari pengelola hotel, jarak menuju Kampung Bena tidak samapai satu jam dari kota Bajawa. Mendengar hal itu, saya berniat untuk mampir kesana besok sambil meneruskan perjalan ke Ruteng.
![]() |
Hotel Edelweis, Bajawa |
![]() |
Warga Desa Lakalodo berlatih tarian untuk acara Reba |
Kami tidak lama disini karena gerimis turun, kami kembali melanjutkan perjalanan menuju Bena. Setelah meninggalkan desa Lokalodo, kami memasuki kawasan perkebunan di lereng Gunung Inerie yang didominasi dengan pohon kemiri. Hujan mulai lebat, kabut menutup sedikit pandangan kami. Aroma kurang sedap tercium, yang ternyata aroma belerang.
Begitu mendekati Kampung Bena, cuaca cukup bersahabat. Yang tadi diperjalan hujan, tapi disni begitu cerah. Dari ujung jalan sudah telihat rumah-rumah kayu dengan atap jerami yang berbaris rapi. Jika desa ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu, pastinya nenek moyang yang mendirikan kampung ini memiliki pengetahuan tentang tata letak bangunan yang cukup baik, ini terlihat dari penataan bangunan yang cukup rapi diantara kontur tanah yang dibuat bertingkat-tingkat.
![]() |
Kampung Bena tampak dari depan |
![]() |
Kontur tanah yang bertingkat-tingkat di Kampung Bena |
Bagian depan kampung ini hamparan tanah lapang luas dengan beberapa rumah di kiri kanannya. Di bagian tengah terdapat beberapa tingkatan dan terdapat beberapa bangunan seperti rumah berukuran kecil dan sejenis gazebo berbentuk payung dari kayu yang beratap jerami. Yang menonjol adalah beberapa kumpulan batu-batu pipih panjang yang diatur membentuk seperti altar yang dikelilingin batu-batu panjang. Ini merupakan tempat untuk mengingat arwah leluhur mereka. Batu-batu ini konon menunjukkan bahwa budaya megalit masih kental di Kampung Bena ini.
Di beberapa rumah terdapat pajangan kepala kerbau yang diawetkan di tiang depan rumah mereka. Saya tidak sempat bertanya tentang maksdu pajangan kepala kerbau tersebut.
![]() |
Susunan kepala kerbau di tiang depan rumah di kampung Bena |
Tidak banyak aktivitas yang kami temui saat berkunjung kesini, suasananya relatif sepi, hanya terlihat beberapa mama yang duduk di serambi depan rumahnya. Mungkin karena kami kesini saat tengah hari, jadi para lelaki mungkin sedang ada di kebun.
Pemandangan yang khas disini adalah hamparan biji kemiri yang dijemur di pekarangan. Disekitar kampung Bena dikelilingin perkebunan yang banyak ditumbuhi pohon kemiri. Kemiri ini dimanfaatkan sebagai rempah dan juga diolah menjadi minyak kemiri.
![]() |
Banyak kemiri dijemur di halaman |
Di salah satu rumah nampak dua orang mama yang sedang membuat tenunan, saya mendekati dan menyapanya untuk mengambil foto sambil sedikit bertanya. Wanita dewasa disini semua bisa menenun, dan hasil tenunan mereka dijual sebagai souvenir bagi para tamu yang berkunjung ke Kampung Bena. Untuk menyelesaikan sehelai kain tenun memerlukan waktu satu bulan, sedangkan untuk ukuran kecil bisa diselesaikan dalam waktu seminggu.
Berbeda dengan kampung-kampung yang menjadi tujuan wisata lainnya, dimana biasanya warga menawarkan tamunya untuk membeli souvenir dengan sangat antusias bahkan terkesan sedikit memaksa, kondisi itu sama sekali tidak kami rasakan di kampung ini, bahkan mama yang saya dekati untuk saya ambil fotonya hanya menawarka kepada kami sekali saja dengan ramah, begitu saya menolak dengan halus merka tidak lantas membuyuk agar kami membeli tenunannya. Keramahan wagra ini menjadikan suasana berkunjung kesini cukup nyaman.
![]() |
Menenun sebagai kegiatan sehari-hari wanita di kampung Bena |
![]() |
Hasil tenun dipajang di depan rumah yang dijual sebagai souvenir |
Sebelum meninggalkan kampung Bena, disalah satu rumah di bagian depan kampung sudah menanti Bapak yang menjadi petugas untuk menerima tamu yang berkunjung. Saat pertama tiba tadi kami tidak meligat kearah rumah tersebut yang seharusnya sebelum memasuki kampung kita mengisi buku tamu dahulu. Kami menghampiri rumah tersebut untuk mengisi buku tamu, disamping meja terdapat kotak untuk memasukan donasi. Tidak ada jumlah yang dipatok bagi para tamu mengenai besaran donasi yang diberikan, seiklasnya saja, jadi sebelum kesini sebaiknya menyiapkan uang secukupnya untuk donasi.
![]() |
Kampung Bena nampak dari bagian belakang |
![]() |
Gunung Inerei di nampak di belakang Kampung Bena |
Related Posts:
Perjalanan Panjang Menuju Tanah Impian - Waerebo
Blind Trip To Moyo Island
Mengoda sekali nich tempat untuk di kunjungin :)
ReplyDeleteRecommended bgt nih om untuk dikunjungi. Sekalian mampir ke sawah jaring laba2 di Ruteng.. :)
DeleteSalam
ReplyDeleteBerbagi Kisah, Informasi dan Foto
Tentang Indahnya INDONESIA
www.jelajah-nesia2.blogspot.com
www.jelajah-nesia.blogspot.com