Saturday, 7 December 2013

Karst Rammang-Rammang, Geowisata di Maros

Masih cerita dari rangkaian solo travel saya ke Sulawesi Selatan awal November kemarin, kali ini saya akan ceritakan perjalanan geowisata saya ke Rammang-Rammang untuk melihat gugusan karts dengan luas 4.500 hektare yang merupakan gugusan karst terbesar kedua di dunia setelah yang ada di Cina Selatan. Destinasi ini awalnya tidak masuk dalam list trip saya ke Sulawesi Selatan namun beberapa hari menjelang keberangkatan saya sempat membaca artikel tentang karst Rammang-Rammang membuat saya langsung tertarik untuk mengunjunginya.

Pagi itu sekitar jam 9 setelah check out dari hotel di kawasan pecinan di jalan Jampea - Makassar, saya naik angkot menuju rumah teman saya yang kebetulan searah dengan jalur angkot menuju Pangkep. Dari sana perjalanan kami lanjutkan menggunakan sepeda motor. Teman saya yang orang Makassar asli ternyata tidak tau ada lokasi geowisata di Rammang-Rammang, yang dia tau memang dari jalan menuju Pangkep sudah terlihat gugusan bukit batu besar membentang.

Landmark karst Rammang-Rammang


Sekitar setengah jam memacu sepeda motor, kami sampai di pertigaan di sisi kanan jalan menuju pabrik semen Bosowa, kami berbelok mengambil arah ke parbik semen itu. Tidak jauh dari pertigaan itu kami sudah melewati jembatan yang ternyata di bawah jembatan itu terdapat dermaga kecil untuk mulai menyusuri sungai untuk menyaksikan gugusan karst tersebut.
Di dermaga hanya ada beberapa perahu kecil, kami ditawarkan sewa perahu dengan harga yang jauh lebih mahal dari referensi yang saya dapat pada artikel yang sempat saya baca, bahkan dua kali lipatnya padahal artikel itu ditulis belum lama. Tawar menawar pun terjadi namun mereka hanya mau turun sedikit saja.
Saya berinisiatif menunggu tamu lain yang akan menyewa dengan maksud sharing sehingga bisa lebih murah. Saat itu ada 3 orang yang akan menyewa perahu dan mereka bersedia untuk sharing dengan saya namun pemilik perahu bilang kapasitas perahu maksimal hanya 3 orang penumpang saja, akhirnya saya tidak bisa gabung dengan mereka. Kami masih menunggu sambil terus tawar menawar, kemudian datang lagi rombongan 5 orang yang kemarin sempat bertemu saya di Tanjung Bira namun mereka memilih menggunakan perhau yang sedikit lebih besar yang muat 5 orang penumpang. Akhirnya salah satu pemilik perahu bersedia menyewakan perahunya dengan harga yang saya minta.


Menyusuri sungai dengan perahu kecil

Perahu mulai bergerak pelan membelah aliran sungai yang cukup tenang meninggalkan dermaga. Ukuran perahu yang kami pakai memang sedikit lebih kecil dari perahu lainnya sehingga kestabilanya kurang baik. Bila badan kami bergerak tiba-tiba maka perahu langsung oleng, jadi kami hanya bisa duduk dalam perahu dan harus berhati-hati bila bergerak.
Pemandangan diawal meninggalkan dermaga sudah cukup menarik, batu-batu karst ukuran kecil dengan bentuk unik nampak di permukaan suangai. Pepohonan sejinis palem-paleman tumbuh subur disepanjang tepi sungai, menjadikan udara terasa sejuk walau terik matahari menyinari. Burung-burung bertebangan, angsa mencari makan di tepi sungai, dan bebek-bebek peliharaan yang sedang berenang langsung terbang rendah menghindari perahu kami yang melintas. Sepanjang perjalanan kami melihat beberapa rumah warga di tepi sunagi dan aktifitas warga yang memperbaiki karamba ikannya, sesekali kami berpapasan dengan perahu lain yang mengarah kembali menuju dermaga. Perahu terus melaju, bukit-bukit karst menjulang tinggi nampak tidak begitu jauh disisi kanan kiri sungai, ada juga yang begitu dekat dari tepi sungai sehingga membentuk celah sempit mengapit sungai.


Bukit karst menjulang tinggi mengelilingi persawahan di kawasan Rammang-Rammang

Kurang setengah jam menyusuri sungai, perahu menepi dan kamipun tiba di spot terbaik untuk menikmati keindahan karst Rammang-Rammang ini. Beranjak dari perahu ke daratan, kami disuguhkan hamparan persawahan kira-kira seluas dua kali lapangan sepak bola dengan gugusan bukut karst menjulang tinggi disekelilingnya seolah menjadi dinding raksasa yang mengelilingi persawahan tersebut. Saat itu areal persawahan sedang tidak ditanami, hanya rerumputan hijau yang tumbuh dan beberapa petak digenangi air. Sungguh pemandangan yang ada dihadapan mata saya ini membuat saya berdecak kagum atas kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam yang begitu indah ini.


Salah satu rumah dengan berlatar dinding tebing karts

Berjalan menuju goa di kaki tebing
Hanya ada beberapa rumah hunian disini berupa rumah panggung kayu sederhana. Saat itu ada beberapa rombongan yang sudah lebih dahulu datang dan ada juga rombongan mahasiswa Universitas Hasanudin yang sudah sejak kemarin menginap di salah satu rumah. Ruma tersebut dihuni oleh pengelola kawasan karst ini, jadi setiap tamu yang datang dipersilahkan untuk mengisi buku tamu di rumah tersebut.
Kemudian kami ikut salah satu rombongan untuk melihat peninggalan purbakala berupa jejak telapak tangan yang ada di dinding gua. Beberapa menit berjalan kaki menyusuri pematang sawah dan kemudian masuk diantara semak-semak dengan panduan seorang pengelola kawasan tersebut, kamipun sampai di gua yang ada di kaki tebing. Sebenarnya ini bukan gua melainkan dinding tebing yang bentuknya agak cekung. Jejak purbakala berupa telapak tangan dengan warna merah nampak di dinding gua, ukurannya lebih kecil dibanding ukuran telapak tangan orang dewasa.
Belakangan ini baru saya tahu bahwa ada gua purba lain di kawasan Rammang-Rammang yang lebih banyak terdapat lukisan dan bekas telapak tangan di dinding guanya, juga terdapat tumpukan kulit kerang yang menandakan tempat itu pernah digunakan sebagai tempat tinggal manusia purba yang hidup ribuan atau bahkan jutaan tahun yang lalu.
Gua di kaki tebing

Disamping kiri tangan saya ada bekas telapak tangan purba dengan ukuran lebih kecil

Puas menikmati keindaha karst yang unik ini, kami kembali menaiki perahu untuk pulang. Perjaanan kembali ke dermaga tetapi menarik untuk dinikmati sambil mengambil beberapa gambar walaupun melintasi jalur yang sama dengan jalur berangkat.
Setelah membayar sewa perahu, pemilik perahu memberi petunjuk arah menuju lokasi karst yang tadi kami lihat dalam perjalanan balik. Lokasinya tidak jauh dari dermaga dan bisa diakses dengan sepeda motor karena berada di sekitar pemukiman. Disini bongkahan karst memang tidak tunggi menjulang seperti di lokasi tadi namun bentuknya cukup unik.
Matahari semaikin tinggi dan terasa begitu terik, kami tidak bisa berlama-lama disini karena perut mulai lapar dan kami harus melanjutkan perjalanan ke Bantimurung.Yang jelas pengalaman ini cukup seru dan menyenangkan.



Karst yang berada di sekitar pemukiman dan bisa dijangkau sepeda motor

Narcis dikit boleh lah :))



Related Posts:







9 comments:

  1. Cakep banget kakak, jadi makin penasaran ama tempat ini. Kudu balik lagi ke makassar nich :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaudah, buruan aja kesana biar penasarannya sembuh. Tapi kayaknya disini gak bisa fotoan dengan "pose wajib" deh kakak.. :))

      Delete
  2. Replies
    1. Sewa perahunya biasa mereka minta 250rb, tapi kalo ditawar biasanya turun jadi 200rb. Mungkin kamarin karena saya cuma berdua dan tawar menawarnya cukup lama akhirnya dia mau mengalah di 150rb.. hehee.. :D

      Delete
  3. Mudah mudahan tahun ini saya bisa ke maros...aminnn...cuaakeep banget! btw singgah-singgah donk k rumah saya http://cofeeanddream.wordpress.com thanyouuu!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiinn.. saya banyuin doa ya supaya tahun ini berhasil ke Maros.. :)
      Blognya keren...!

      Delete
  4. Boleh juga yaa. Saya juga mesti kesana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ayo mas kesana, gak bakal rugi... Hehe..

      Delete
  5. pemandangannya bikin tenang hati ya mas? saya juga rencananya bulan depan nih pengen ke rammang-rammang

    ReplyDelete